Relawan

BERNIKE HANGESTI

Memadukan Ilmu Hukum, Perspektif Perempuan dan Hati.

Sarjana hukum lulusan Universitas Hang Tuah dan Magister Hukum  Universitas Bhayangkara in mendapatkan liscence sebagai advokat sejak 2013 dan sudah menangani  lebih dari 50 kasus kekerasan terhadap perempuan. Berenang, ke salon dan nonton film adalah kegiatan yang disukainya untuk menghabiskan waktu luang.

Awal bergabung dengan Savy Amira?

Pertama kali saya kenal Savy dari teman kantor, dia seorang lawyer yang kuat dan sangat membela nasib para perempuan. Setiap sore kami saling berbagi cerita tentang perempuan dan apa yang sering dihadapi perempuan seperti perempuan rentan terhadap kekerasan dan pelecehan, kemudian dia menawari saya bergabung di lembaga swadaya masyarakat, waktu itu dia sebut sahabat perempuan, atau Savy Amira. Terus saya mulai cari tahu tentang visi misinya terlebih dahulu. Event pertama kali kenal Savy itu waktu Hari Raya 2012. Waktu itu Savy mengadakan acara makan bersama. Dari situ saya mulai kenal teman-teman Savy Amira. Di event  itu juga kita bahas tentang hak-hak dan kondisi perempuan saat ini. Kebetulan waktu itu salah satu penyintas juga hadir, dia cerita tentang kehidupannya dari yang terdahulu sampai dia survived. Itu yang membuat saya sangat tertarik dengan Savy Amira. Jadi saya kemudian mengutarakan niat saya untuk bergabung di Savy Amira. Beberapa waktu berselang, kemudian saya dipanggil untuk menjalani proses masuk. Saya ditanya-tanya untuk analisis kasus, sebagai test case. Kalau ada kasus seperti ini, sebagai praktisi hukum, sikapmu bagaimana? Waktu itu bener-bener menganalisisnya perlu memadukan antara ilmu pengetahuan, perspektif perempuan dan hati. Setelah menganalisis beberapa kasus, akhirnya  “Bernike, welcome to Savy Amira.”

Kasus apa yang ditangani pertama kali?

Saya ingat sekali, waktu itu ada perempuan berpacaran dengan aparat.  Perempuan tersebut kemudian hamil, namun pacarnya menolak untuk betanggung jawab. Bahkan selama hamil ia mendapatkan kekerasan, dijambak, digeret, dsb. Kemudiant kita ke tempat tinggal mereka untuk mencari bukti dan saksi. Tetangga mereka menyampaikan, memang pernah terdengar teriakan. Meski demikian, para tetangga tersebut tidak berani bersaksi karena takut sama pelaku. Mereka tahu perempuan itu digeret, bajunya sampai sobek…. Kemudian ada satu orang yang sama-sama bisa berbahasa daerah tempat korban berasal, yang akhirnya mau membantu. Waktu itu tuntutannya ada dua, satu untuk kasus KDRT, satunya lagi untuk pelanggaran kode etik tempat pelaku bertugas. Untuk pelanggaran kode etik,  tuntutan kita berhasil dan pelaku mendapat scoring 1 tahun. Meskipun begitu, kita tdk bisa memantau apakah benar skorsing tersebut dilaksanakan atau tidak. Waktu itu keputusannnya di persidangan internal, sehingga kami tidak bisa memantau. Sedangkan untuk KDRT-nya akhirnya berhenti tidak sampai ke pengadilan, karena kita berhadapan dengan aparat. Agak sulit apabila tersangkanya adalah juga aparat. Intervensi (kesatuan)nya sangat luar biasa. Akhirnya perempuan ini memutuskan untuk mencabut tuntutan, dan dia kembali ke daerah asalnya.  Kami tidak lagi bisa menghubunginya. disitulah semakin saya memahami beratnya menjadi perempuan. ditinjau dari berbagai sisi tidak ada yang berpihak padanya. sisi hukum masih sangat lemah dengan perspektif penegak hukum terhadap apa yang dialami perempuan korban, sisi sosial dan sisi agama yang selalu menyalahkan perempuan di saat perempuan mengalami kekerasan. padahal jika dipelajari lebih mendalam setiap kejadian yang dialami oleh perempuan tidak sertamerta salah perempuan itu.

Kasus yang paling mengesankan?

Kasusnya baru-baru ini sih…. waktu itu datang seorang perempuan kurus mengenakan hijab sambil menangis. Kupikir kasus KDRT psikis,  ternyata begitu hijabnya dibuka, rambutnya pethal di sana-sini dan tubuhnya lebam di banyak tempat. Jalannya pun diseret. Saya benar-benar shocked.  Itu Hari Minggu pagi, kami kira cuma konsultasi biasa, ternyata kita harus juga menyelamatkan korban, membawanya ke rumah aman, yaitu shelter PPT. Dia tidak berani pulang karena takut akan disekap kembali oleh suaminya. Bersama anaknya, serta baju yang melekat di badan ia berusaha menyelamatkan diri. Kemudian kasusnya diproses, namun pihak POLDA kebingungan, karena tidak ada KTP, tidak ada KK dan tidak ada surat nikah. Yang jelas , saat itu ada perempuan, dengan bekas memar parah di sekujur tubuh. Sudah itu tok. Pihak PPT akhirnya mau membantu komunikasi dengan PPA POLDA.  Kemudian dia tinggal di PPT selama  2 minggu, sampai akhirnya dia ditolong oleh atasannya untuk mencari tempat aman. Dia tinggal di rumah teman atasannya sampai mendapat pekerjaaan dan tempat baru. Waktu itu saya mikir, sebagai praktisi hukum, saya ini harus memikirkan tidak hanya kasus hukumnya saja, tapi juga kebutuhannya yang lain, seperti baju, dan kemungkinan tempat tinggal dan tempat kerja baru untuk perempuan tersebut.

Tantangan-tantangan bekerja sebagai praktisi hukum untuk perempuan korban kekerasan?

Pertama, bekerja sama dengan pihak-pihak seperti aparat penegak hukum yang masih memiliki perpektif gender yang berbeda. diskusinya harus panjang. Menarik sih, tapi kadang melelahkan. Kedua, adalah bukrti yang seringkali kurang. terutama untuk kasus kekerasan seksual pada perempuan, biasanya tidak ada saksi lain dan bukti-bukti segera dilenyapkan karena perempuan merasa kotor setelah peristiwa tersebut. Ketiga, agak sulit bisa berjarak secara emosional dengan korban, sehingga kita sendiri juga terdampak. Dulu pertama-tama menangani yang parah. Sampai aku sempat harus vacuum untuk menenangkan diriku sendiri. Akhir-akhir ini saya lebih bisa mengambil jarak.

Pesan untuk perempuan?

Perempuan itu berharga sama seperti laki-laki, ibarat biji mata Tuhan. Jadi, rombaklah pemikiranmu, jangan biarkan org lain berbuat semena-mena terhadap kita. Perempuan harus berani melawan.

Bergabung dengan kami di komunitas Savy Amira

Menjadi Relawan Donasi